Jakarta, muslim network – Umat Islam sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat. Hal itu tercermin dalam kehidupan 4 orang Imam yang sangat terkenal yang menjadi ikutan kaum muslimin yaitu imam syafii, hanafi, maliki dan hanbali.
Menurut Wakil Ketua MUI, buya Anwar Abbas, masing-masing mereka (Imam) punya pengikut, sikap dan pandangan sendiri-sendiri sehingga telah melahirkan mazhab-mazhab.
Pengikut mazhab Hanafi lebih banyak di Asia Selatan dan Turki. Mazhab Syafii di Asia Tenggara dan Yaman.Imam Maliki di Afrika Utara dan pengikut imam Hanbali di Arab Saudi.
“Kita tahu para imam mazhab tersebut adalah orang-orang yang alim dan ahli, serta sangat berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memajukan agama islam,” ujar Buya Anwar Abbas.
Kapan mereka hidup ? Imam Abu Hanifah (w. 150 H) sezaman dengan Imam Malik (w. 179 H). Imam Malik sezaman dan menjadi guru Imam Syafi’i (w. 204 H). Imam Syafi’i kemudian menjadi guru dari Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H).
“Salah satu hal menarik dari mereka adalah sikap toleran yang telah mereka perlihatkan kepada kita. Kita tahu meskipun mereka berbeda sikap dan pandangan dalam banyak hal namun mereka tetap saling hormat menghormati dan tidak mau memaksakan pendapatnya kepada yang lain,” tandas Buya Anwar Abbas.
Hal itu bisa terjadi karena mereka selain sangat mengutamakan ukhuwah islamiyah, juga karena mereka melihat perbedaan pendapat tersebut bukanlah sebuah bencana atau malapetaka tapi sebuah rahmat.
“Oleh karena itu mereka tidak pernah disibukkan oleh perbedaan apalagi menjadikan perbedaan itu sebagai dasar untuk memvonis atau menyalahkan pihak yang lain,” urai Buya pada Rabu(18/2/26) kepada muslim network.
Sebagai contoh kita lihat bagaimana sikap dari Imam Syafi’i yang berbeda pendapat dengan Imam Abu Hanifah. Kita tahu imam syafii dalam shalat subuh membaca qunut sementara imam abu hanifah tidak. Lalu ketika imam syafii berziarah ke makam imam Abu Hanifah di Baghdad, Imam Syafi’i tidak membaca qunut pada waktu shalat Subuh. Ketika imam syafii ditanya mengapa beliau tidak qunut ? Imam syafii menjawab, Saya menghormati imam Abu Hanifah.
Hal serupa juga diperlihatkan imam Ahmad bin hanbal kepada imam syafii. Kita tahu beliau berdua sering berbeda pendapat dalam masalah fiqih, tetapi meskipun demikian Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa beliau selalu mendoakan Imam Syafi’i dalam shalatnya bahkan hal itu sudah beliau lakukan selama empat puluh tahun.
Lalu timbul pertanyaan apakah kita yang mengagumi dan menjadi pengikut dari para imam tersebut akan berpecah belah karena ada perbedaan pendapat ?
“Tentu saja tidak. Oleh sebab itu karena diantara kita sekarang ini terdapat perbedaan pendapat terkait dengan awal ramadhan tahun 1447 H, yaitu ada yang berpuasa hari ini (Rabu) dan ada pula yang berpuasa besok (Kamis) maka dalam hal ini kita berharap agar masing-masing pihak dapat meniru sikap tasamuh dan toleransi dari para imam mazhab tersebut,” kata Buya lagi.
Dan jangan ada diantara kita yang memaksakan pendapatnya kepada pihak lain karena kita tahu metode yang dipergunakan oleh masing-masing pihak untuk sampai kepada kesimpulannya masing-masing yaitu dua metode ( hisab dan ru’yah) yang memang dibenarkan dan diterima oleh syara’.
“Oleh karena itu sikap terbaik yang perlu kita buat, mari kita kembangkan sikap saling hormat menghormati diantara kita karena memang dengan cara seperti itulah, kita akan dapat menegakkan ketertiban dan ukhuwah islamiyah serta persatuan dan kesatuan yang baik dan kuat diantara kita,” pungkasnya



















