Jakarta, muslim network — Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkap bahwa 80% jemaah haji Indonesia 2026 tergolong berisiko tinggi alias risti, sehingga perlu menjaga kesehatannya sejak persiapan hingga saat puncak haji.
Hal tersebut disampaikan Dahnil saat berdiskusi dengan para jurnalis anggota Media Center Haji (MCH) di sela Pendidikan dan Pelatihan alias Diklat Petugas Haji 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Dahnil menjabarkan bahwa sejauh ini terdapat sekitar 177.000 jemaah haji yang tergolong berisiko tinggi (risti). Jumlahnya mencakup 80% dari total jemaah haji Indonesia 2026, yakni 221.000 orang.
Jemaah haji risti adalah jemaah berusia di atas 60 tahun atau jemaah dengan kondisi kesehatan khusus, seperti memiliki penyakit komorbid. Jemaah haji risti tetap bisa berangkat haji, dengan kondisi kesehatan yang terus dipantau.
Dahnil mengungkap bahwa 25% jemaah haji 2026 merupakan lansia. Banyaknya jumlah jemaah haji yang berusia di atas 60 tahun tidak lepas dari lamanya waktu tunggu haji di Indonesia.
Sebagai informasi, pada 2026 ini antrean haji Indonesia mencapai 5,6 juta orang. Pemerintah pun menetapkan kebijakan masa tunggu haji menjadi 26,4 tahun secara merata di seluruh Indonesia.
Menurut Dahnil, jumlah jemaah haji risti yang mencapai 177.000 itu sudah melalui proses pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat (istitha’ah kesehatan). Proses itu merupakan upaya mitigasi agar jemaah haji tetap bisa berangkat meskipun memiliki penyakit atau sudah lansia, karena mereka pun berhak untuk beribadah.
“Kematian [jemaah haji itu] karena intensitas kegiatan yang tinggi. Juga, karena sudah capek di Indonesia, termasuk yang jarak ke asrama hajinya jauh, misalnya lintas pulau [baru tiba di embarkasi, kemudian terbang ke Arab Saudi]. Makanya kami wanti-wanti jangan kelelahan,” ujar Dahnil, Senin
Menurutnya, Kemenhaj terus gencar melakukan sosialisasi kepada para jemaah, termasuk melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), agar para jemaah haji selalu menjaga kesehatan dan melatih kondisi fisik. Jemaah haji harus rutin berolahraga dan makan bergizi, agar kondisi tubuh selalu prima.
Selain itu, Kemenhaj juga menghimbau agar para jemaah haji tidak kelelahan saat berada di Tanah Suci. Setelah melakukan umrah wajib, jemaah dapat memperbanyak istirahat, mempersiapkan fisik untuk puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kemenhaj juga memastikan bahwa para petugas haji akan siap melayani para jemaah haji. Sebanyak 4.418 jemaah haji akan bertugas di Tanah Suci untuk melayani dan membantu para jemaah haji, memastikan ibadah mereka berjalan lancar dan bisa kembali dengan sehat ke Indonesia.
“[Penyelenggaraan ibadah haji] ini operasi kemanusiaan paling besar di dunia. Dari yang risti itu, 33.000-nya lansia, kita harus pastikan mereka aman,” ujar Dahnil
