Muslim Network – Sejarah baru terukir dalam perjalanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Institusi Tanah Air yang menjadi penjaga stabilitas sistem keuangan nasional kini dipimpin Friderica Widyasari Dewi. Perempuan yang akrab disapa Kiki menjadi perempuan pertama yang memimpin OJK, setelah ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK pada Sabtu (31/1/2026)
Meski menyandang status pejabat sementara (Pjs), posisi yang diembannya bukan simbolik. Kiki berada di titik kendali tertinggi regulator sektor jasa keuangan Indonesia yang dibentuk sejak tahun 2011 tersebut. Sebagai nahkoda, ia memegang penuh kewenangan strategis dan operasional lembaga yang mengawasi stabilitas perbankan, pasar modal, industri keuangan non bank, pelindungan konsumen hingga aset kripto.
Seperti diketahui, pucuk pimpinan tertinggi sebelumnya dijabat oleh Muliaman D. Hadad sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK periode 2012–2017, Wimboh Santoso (2017-2022), Mahendra Siregar (2022–mengundurkan diri 30 Januari 2026). Disusul Friderica Widyasari Dewi sebagai Pjs sejak sepekan lalu.
OJK adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Secara lebih lengkap, OJK adalah lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 21 tersebut.
Tugas pengawasan industri keuangan non-bank dan pasar modal secara resmi beralih dari Kementerian Keuangan dan Bapepam-LK ke OJK pada 31 Desember 2012. Sedangkan pengawasan di sektor perbankan beralih ke OJK pada 31 Desember 2013 dan Lembaga Keuangan Mikro pada 2015.
Menelisik lebih jauh, berdasarkan pantauan tim Datatrust Investortrust, ada 16 negara yang punya lembaga integrated financial regulator serupa lembaga OJK. Yang menarik bahwa masih sedikit kepemimpinan perempuan di pucuk regulator keuangan yang saat ini menjabat. Saat ini setidaknya ada Nathalie Aufauvre – L’Autorité de contrôle prudentiel et de resolution (ACPR) *Perancis; Louise Caroline Mogensen – Danish Financial Supervisory Authority (DFSA) *Denmark; dan Elvira Nabiullina – Central Bank of Russia (CBR) *Rusia
Kepemimpinan Kiki bukanlah kejutan bagi pimpinan lembaga keuangan hingga jurnalis, melainkan rangkuman rekam jejak (track record) panjang dan konsisten.
Yang menarik, meski mengawali karier di seni peran dengan membintangi berbagai judul sinetron terpopuler (Angling Dharma, Panji Milenium, dan Doaku Harapanku) pada era akhir 1990-an hingga awal 2000-an, ia justru menempuh ilmu dengan terbang beribu ribu mil dan surut dari ingar-bingar panggung keartisan. Bahkan, ibu dari dua anak itu justru berhasil mengukir prestasi di dunia keuangan. Hal itu tidak mengherankan, perempuan yang baru genap berusia 50 tahun tersebut ternyata sejak kecil menjadi langganan siswa terbaik dan pernah mengikuti Olimpiade Matematika.
Usai menyelesaikan program Master dengan pilihan bidang studi keuangan di California State University of Fresno, Amerika Serikat (AS), ia banyak mendapat tawaran mengajar di beberapa perguruan tinggi ternama, mulai dari Atma Jaya sampai Universitas Indonesia. Maklum, ketika menimba ilmu di AS, Kiki yang sempat duduk di Kadin sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Pengkajian Permodalan dan Perbankan, didapuk menjadi asisten dosen untuk mata kuliah keuangan. Ia juga banyak mendapat pinangan dari perusahaan, salah satunya perusahaan konsultan yang melamarnya menjadi salah satu direktur dengan kompensasi gaji yang besar plus fasilitas menggiurkan.
Namun semua tawaran itu ditolaknya, ia jatuh hati pada pasar modal dan memulai karier perdananya di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berangkat dari pengalamannya sewaktu di AS. Hingga pada satu masa, ia dicalonkan menjadi direksi BEI dan akhirnya mendapuk sebagai Direktur Pengembangan Bisnis BEI. Kiki tercatat menjadi direksi termuda di BEI. Ia juga menjadi satu-satunya direksi wanita pada periode 2009-2012.
Menariknya, sebagai calon kandidat ketika itu, putri pasangan Soegih Hidayat dan Caecilia Hanggarini tersebut menawarkan program dan kampanye seputar kapitalisasi pasar dan good governance, baik di bursa maupun di industri.
Di berbagai forum, istri dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Eddy Hartono memang kerap tampil dengan gaya yang lugas dan bisa menghadirkan ketegasan. Tegas dalam menjaga stabilitas, cerdas merespons perubahan, dan anggun dalam memimpin institusi. Selain itu, dalam konferensi pers bulanan OJK, ia pun selalu memimpinan jalannya acara. Pendekatan itu menjadikannya sosok yang disegani, baik oleh pelaku industri keuangan, pembuat kebijakan, maupun mitra keuangan internasional.
Penunjukan Kiki juga membawa makna simbolik yang kuat. Di tengah dominasi laki-laki dalam jabatan puncak regulator keuangan, kehadirannya menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan bukan pengecualian. Kiki pun sempat menyarankan, kaum perempuan yang ingin maju dan menapaki karier sebagai pemimpin di sebuah organisasi haruslah memiliki kepercayaan diri tinggi, diimbangi kapabilitas yang tinggi pula. Perempuan harus lebih ekstra daripada kaum laki-laki, harus lebih cerdas dan mampu memiliki nilai tambah.
Guru Besar Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya Rosdiana Sijabat menilai, Kiki sebagai sosok perempuan dapat dipandang simbol “cermat, tata kelola yang hati-hati”. Karena pernah di dunia entertainment, ia juga akan memiliki public dan media engagement yang relatif baik.
Dengan kemampuan yang dimilikinya, Rosdiana tak heran karier Kiki di BEI cepat meroket. “Setidaknya sebagai pemimpin perempuan pertama di OJK, Mbak Kiki diharapkan membawa penyegaran dari sisi leadership style,” katanya kepada Investortrust, Sabtu (7/2/2026).
Kondisi pasar modal Indonesia yang tengah menghadapi tantangan struktural dan kepercayaan investor hari ini seolah mengonfirmasi relevansi pemikiran akademik Friderica Widyasari Dewi. Jauh sebelum dinamika ini mengemuka, perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut telah menaruh perhatian serius pada fondasi pasar modal nasional melalui karya ilmiahnya.
Dalam disertasinya untuk meraih gelar Doktor dari Programmer Studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2019, Kiki mengkaji secara mendalam persoalan pertumbuhan pasar modal Indonesia yang dinilai belum optimal. Melalui disertasi berjudul “Analisis Dampak Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan dan Risiko pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia”, ia menyoroti bagaimana struktur kepemilikan, tata kelola, dan manajemen risiko berperan penting dalam membentuk nilai perusahaan sekaligus tingkat kepercayaan pasar.
Dalam disertasinya Kiki juga menyoroti paradoks perkembangan pasar modal Indonesia yang tumbuh cukup pesat secara kinerja, namun belum optimal dalam mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan nasional. Meski IHSG menunjukkan penguatan dan menempatkan Indonesia pada posisi kompetitif di kawasan Asia, tingkat partisipasi investor domestik saat itu masih sangat rendah, kurang dari 1% populasi, serta kepemilikan asing yang relatif besar masih menimbulkan risiko capital flight.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia belum sepenuhnya menjalankan mandat UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 sebagai sarana pemerataan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat luas.
Melalui penelitian empiris terhadap perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2011–2015, Kiki menganalisis dampak struktur kepemilikan terhadap nilai dan risiko perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara konsentrasi kepemilikan pada satu pihak dengan nilai perusahaan, yang menguatkan argumen terjadinya ekspropriasi oleh pemegang saham mayoritas terhadap pemegang saham minoritas.
Berjalannya waktu, per akhir 2025, investor pasar modal mencapai 20,32 juta single investor identification (SID), sedangkan populasi penduduk Indonesia telah melampaui 287 juta jiwa, menjadikannya salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia.
Profil Dr. Friderica Widyasari Dewi SE, MBA
Tempat tanggal lahir: Cepu, Jawa Tengah, 28 November 1975
Pendidikan Formal
2019: Doktor (S3) Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) – Predikat Cumlaude.
2004: Master of Business Administration (MBA), California State University of Fresno, Amerika Serikat.
2001: Sarjana Ekonomi (SE), Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pengalaman Kerja
2022 – Saat ini: Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK
2020-2022: Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas
2016-2019: Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
2015-2016: Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
2009 -2015: Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI)
2023 – Saat ini: Koordinator Dewan Pembina Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (SATGAS PASTI) dan Indonesia Anti Scam Centre (IASC)
2023 – Saat ini: Anggota Komite Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat
Organisasi Internasional
2022 – Saat ini: Advisory Board pada The OECD Internasional Network on Financial Education (OECD/INFE)
2022 – Saat ini: Governing Council pada the International Finansial Consumer Protection Organisation (FinCoNet)
Publikasi Buku
Cara Bijak Mengelola Portofolio Investasi
Pengawasan Market Conduct: A Game Changer
Penghargaan:
Indonesia Outstanding Women Leader in Financial Services
BIG 40 Awards: Consumer Protection Governance Strategist
The Most Outstanding Woman 2025
Top 100 Most Outstanding Women 2023
Sertifikasi
Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) yang diterbitkan oleh OJK (2019)
