Jakarta, muslim network – Jelang Presiden RI Prabowo Subianto mengundang 64 tokoh pimpinan ormas Islam dan pengasuh pondok pesantren di istana yang salah satu pembahasannya adalah mengenai bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace. Tokoh nasional bidang sosial, keagamaan dan kemasyarakatan yang juga Wakil Ketua Umum MUI, Buya Anwar Abbas angkat bicara.
Buya Anwar Abbas sampaikan bahwa Donald Trump tidak hanya seorang politisi tapi juga pengusaha. Kekayaannya di Oktober 2024 sekitar US $ 6,6 milyar atau Rp. 111 triliun dengan kurs Rp.16.800. Banyak sekali lapangan bisnis yang diterjuni Trump mulai dari properti, kontruksi, hotel, lapangan golf, model, kecantikan, hiburan, parfum, kripto, media dan lisensi serta teknologi.
Sejak dia menjadi Presiden memang usaha-usaha tersebut dikelola oleh anak-anaknya Donald Jr dan Eric Trump. Tapi itu bukan berarti Trump tidak lagi memikirkan perusahaan-perusahaannya.
Menurut Buya Anwar, otaknya dan naluri bisnisnya tetap saja jalan. Dalam kasus penculikan Maduro Presiden Venezuela misalnya jelas tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan masalah bisnis minyak dimana Donald Trump menginginkan supaya Amerika tetap menguasai bisnis minyak dunia dan Venezuela memiliki potensi minyak yang luar biasa sementara Maduro tidak mau menjual minyaknya kepada Amerika dia dan lebih senang berhubungan dengan China.
Begitu juga dengan Iran. Trump ingin Iran ikut dengan amerika tapi Iran lebih senang menjual minyaknya kepada China padahal China adalah salah satu negara yang diyakini dunia akan bisa mengalahkan ekonomi Amerika.
Walaupun hari ini Amerika masih memimpin ekonomi global dengan PDB tahun 2025 di atas $30,6 triliun USD dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 menurut perkiraan OECD sekitar 1,6 persen ( menurun dari 2,8 persen di 2024).
Sementara China pada tahun 2025 berada pada posisi terbesar kedua ekonominya dengan PDB mencapai sekitar $19,2 – $19,4 triliun USD dengan pertumbuhan ekonominya sekitar 5%. maka pada waktunya tentu tidak mustahil ekonomi amerika akan disalip oleh China.
PricewaterhouseCoopers (PwC), memproyeksikan China akan mengalahkan Amerika Serikat dan menjadi ekonomi terbesar di dunia (berdasarkan PDB pada nilai tukar pasar/market exchange rates) sebelum tahun 2030. Bahkan pada tahun 2050, menurut PWC China akan tetap mengukuhkan dirinya menjadi no 1 ekonominya di dunia diikuti oleh India dan AS.
Maukah Amerika Serikat tergeser ekonominya ke no 2 apalagi ke no 3 dunia ? Tentu saja tidak. Untuk itulah Trump dengan kekuasaan yang dimilikinya berusaha menciptakan peluang-peluang baru bagi negaranya dan perusahaannya.
“Pembangunan kembali Gaza jelas tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan rencana Trump untuk memperkuat ekonomi negaranya dan perusahaannya,” tandas Buya pada, Selasa (3/2/26)
Jadi jika Trump berhasil menghimpun dana gratis dari negara-negara anggota dewan perdamaian Gaza tentu pembangun Gaza akan berjalan dengan lancar.
Tetapi pertanyaannya siapakah yang akan untung dan diuntungkan dengan program tersebut ? “Tentu adalah perusahaan properti Amerika Serikat termasuk di dalamnya perusahaan milik Trump sendiri sementara negara-negara anggota, cukup hanya sebagai penyumbang dan sedikit mendapat pujian dari Trump,” pungkasnya.
















